Sidoarjo – Peneliti Senior Institute of Research and Public Development (IRPD), Nanang Haromain, melontarkan kritik tajam terhadap Rancangan Anggaran Pendapatan Daerah (RAPBD) Kabupaten Sidoarjo tahun 2026, khususnya terkait target pendapatan yang dinilai mencerminkan sikap apatis dan minim inovasi di tengah tekanan krisis ekonomi.
Hal ini disampaikan mantan Komisioner KPU Kabupaten Sidoarjo ini saat menanggapi polemik politik Anggaran pascara Rapat paripurna DPRD kabupaten Sidoarjo terkait pandangan Umum Fraksi terhadap RAPBD 2026 yang ramai menjadi perbincangan dimedia sosial.
Menurut Nanang Haromain, Sidoarjo memperlihatkan pola kontraproduktif dibandingkan banyak daerah lain yang justru didorong krisis untuk melahirkan terobosan dan inovasi sumber pendapatan baru. ”Di saat banyak daerah berinovasi karena ditekan krisis, Sidoarjo justru sibuk menenangkan posisi dan memilih bertahan di zona nyaman. Hal ini terlihat jelas dari target pendapatan 2026 yang terkesan apatis,” .
Ia menyayangkan perubahan fokus kepemimpinan di Sidoarjo yang menurutnya telah bergeser dari ranah kebijakan transformatif ke ranah klarifikasi dan rutinitas administratif. ”Ketika yang lain bereksperimen mencari jalan keluar, kita memilih bertahan di zona nyaman. Pemerintahan berubah jadi panggung klarifikasi, bukan laboratorium gagasan. Akibatnya, visi pembangunan kehilangan arah, dan imajinasi publik mati perlahan,” tegasnya.
Nanang menekankan bahwa krisis seharusnya menjadi momentum emas bagi pemerintah daerah untuk berani membayangkan ulang potensi dan blueprint pembangunan, bukan malah berlindung di balik ilusi stabilitas. ”Padahal, krisis seharusnya menjadi ruang lahirnya ide baru bukan alasan untuk bersembunyi di balik stabilitas semu.
Sidoarjo butuh keberanian membayangkan ulang dirinya, bukan sekadar mengelola keadaan. Sebab tanpa imajinasi, semua kebijakan hanyalah rutinitas administratif yang berjalan tanpa jiwa, ” tutup Nanang Haromain, menyerukan agar Pemerintah Kabupaten Sidoarjo segera mereorientasi fokus kerjanya dari mempertahankan status quo menjadi penciptaan terobosan inovatif.












