SIDOARJO – Jagat media sosial di Sidoarjo tengah dihebohkan oleh tulisan tajam jurnalis senior asal Sidorejo, Hadi Suyitno, yang akrab disapa Cak Hadi. Dalam opininya yang bertajuk “Opini Cak Hadi”, ia membongkar sisi kelam di balik narasi upaya perdamaian (islah) antara Bupati Subandi (W1) dan Wakil Bupati Mimik Idayana (W2).
Bukannya tanda-tanda akur, Cak Hadi justru membeberkan rentetan peristiwa memilukan yang dialami Wabup Mimik saat menghadiri Rakornas Forkopimda di Sentul, Bogor, awal Februari lalu.
Menurut penuturan Cak Hadi, dugaan perundungan sistematis terhadap Wabup Mimik dimulai dari pengaturan akomodasi. Saat rombongan Bupati Subandi dan anggota Forkopimda lainnya menginap di Hotel Neo yang hanya berjarak 10 menit dari lokasi acara, Wabup Mimik justru “dibuang” ke Hotel Harris.
”Bu Wabup diisolir di tempat terpisah… yang jaraknya cukup jauh, sekitar 30 menit via tol dari lokasi acara Sentul International Convention Center (SICC),” tulis Cak Hadi dalam opininya.
Mirisnya, hotel yang dekat dengan lokasi acara justru ditempati oleh pejabat yang kabarnya tidak masuk dalam daftar undangan resmi, seperti Asisten 1 dan Plt Kadis DLHK. Hal ini memicu pertanyaan besar: Mengapa orang nomor dua di Sidoarjo justru diasingkan?
Pelecehan protokoler tidak berhenti di situ. Kejadian yang paling menyayat hati adalah saat Wabup Mimik dilaporkan harus menunggu jemputan selama 30 menit di bawah gerimis di depan sebuah minimarket.
Mobil rombongan yang seharusnya menjemput terlambat datang karena berada di titik kumpul yang berbeda (Hotel Neo). Saat mobil datang, kondisi kursi sudah penuh sesak. Beruntung, reaksi cepat ajudan membuat salah satu penumpang harus mengalah demi memberikan tempat bagi sang Wakil Bupati.
”Saya tidak bisa masuk tempat acara kalau tidak berada dalam mobil undangan, padahal saya diundang,” keluh Mimik Idayana sebagaimana dikutip dalam narasi tersebut.
Jurnalis kawakan yang malang melintang diberbagai media ini menilai, perlakuan yang dianggap “halus tapi kasar” ini menjadi tembok besar bagi upaya islah yang sempat didengungkan oleh sejumlah pihak, termasuk aksi ormas yang baru-baru ini mendatangi DPRD Sidoarjo.
Alih-alih menyambut islah di meja formal, Wabup Mimik justru memilih jalannya sendiri. Ia lebih memilih “islah” dengan rekan media di kediaman pribadinya di Candi, Sidoarjo, ketimbang memaksakan rekonsiliasi yang secara praktis tampak mustahil di tengah intimidasi protokoler.
”Cara-cara seperti ini yang menjauhkan islah W1 dan W2,” pungkas Cak Hadi dalam tulisan yang kini menjadi perbincangan hangat di grup-grup WhatsApp warga Sidoarjo.












