PASURUAN – Anggota Komisi C DPRD Provinsi Jawa Timur, Multazamudz Dzikri, M.Pd, memotret fenomena unik sekaligus menantang terkait relasi antara legislator dan konstituennya. Pria yang akrab disapa Mas Azam ini menyebut bahwa ekspektasi masyarakat terhadap sosok wakil rakyat seringkali berada pada level yang sangat tinggi.
Hal tersebut disampaikannya dalam sesi dialog kegiatan Jagongan Wakil Rakyat (JAWARA) yang digelar di kantor Sekretariat DPRD Kabupaten Pasuruan pada Sabtu sore, 28 Februari 2026.
Dalam pemaparannya, Azam melontarkan sebuah analogi menarik terkait sebutan “Dewan”. Menurutnya, ketika seorang anggota legislatif turun langsung menyapa masyarakat, beban harapan yang dipikul sangatlah berat hingga mengubah persepsi identitas mereka.

”Ketika turun ke masyarakat, huruf ‘N’ pada kata Dewan itu seringkali hilang, sehingga yang tersisa adalah Dewa. Masyarakat mempersepsikan anggota dewan sebagai sosok yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan mereka secara instan,” ujar Azam pada forum diskusi yang disiarkan secara lansung melalui channel YouTube ini.
Ia menilai, masyarakat kerap menganggap anggota legislatif memiliki “tongkat ajaib” yang bisa memberikan solusi atas segala permasalahan, mulai dari urusan infrastruktur hingga persoalan sosial ekonomi yang kompleks bahkan bisa jadi diluar menyangkut persoalan diluar wewenang dan fungsi kedewanan.
Menyikapi fenomena tersebut, sekretaris DPW PKB Jawa Timur ini menegaskan bahwa begitu besar ekspektasi masyarakat terhadap dewan. Untuk menjawab ekspektasi yang begitu besar, diperlukan strategi, koneksi serta komunikasi yang baik.
”Kita tidak bisa berjalan sendiri. Butuh kolaborasi, sinergi, dan daya kreatif untuk menjawab ekspektasi masyarakat yang begitu tinggi tersebut,” terangnya.










