SURABAYA – Estafet kepemimpinan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Timur resmi dimulai. H. Abdul Halim Iskandar kembali dikukuhkan sebagai Ketua DPW PKB Jatim dalam prosesi pelantikan khidmat yang digelar di Surabaya, Sabtu (14/2/2026).
Dalam pidato politik perdananya usai dilantik, sosok yang akrab disapa Gus Halim ini menegaskan bahwa kepemimpinannya di periode ini berdiri di atas momentum ideologis yang besar, yakni memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama (NU).
Bersandar pada gagasan ketum PKB, Gus Halim mengajak seluruh kader untuk menyudahi perdebatan yang tidak produktif mengenai posisi politik PKB ditengah keluarga besar Nahdlatul Ulama. Menurutnya, fokus utama PKB saat ini adalah kembali ke khitah pendirian partai.

”Hari ini kaki kita menapak pada abad ke-2 Nahdlatul Ulama. Ini bukan lintasan waktu biasa, ini sebuah momentum ideologis dan historis. Bagi PKB, yang paling penting adalah menjalankan mandat kelahiran: melayani dan mengabdi untuk kemajuan warga NU serta seluruh warga negara Indonesia,” tegas Menteri Desa periode 2019-2024 tersebut.
Menyoroti dinamika politik nasional, Gus Halim memberikan catatan kritis terhadap kondisi demokrasi saat ini. Ia menyebut tantangan politik uang dan era post-truth (pasca-kebenaran) sebagai ancaman nyata yang harus dijawab dengan transformasi internal partai.
Terkait hal ini Gus Halim menggagas beberapa Hal: pertamaTransformasi Kelembagaan partai, PKB Jatim berkomitmen bergeser dari sekadar “mesin pemenang pemilu” menjadi “institusi layanan politik”.

Kedua, Pelayanan kepada masyarakat tidak boleh hanya muncul saat musim kampanye, melainkan harus bersifat berkelanjutan, dan Yang terkahir Gus Halim mewaspadai fenomena “overdosis demokrasi” yang cenderung menormalisasi praktik politik uang.












