SIDOARJO – Menjelang momentum regenerasi kepemimpinan di tubuh DPC PKB Sidoarjo, satu nama tetap menjadi bayang-bayang besar yang sulit terhapuskan: H. Syaiful Ilah. Pria yang akrab disapa Abah Ipul ini dinilai telah memancang standar loyalitas dan dedikasi yang hingga kini belum mampu disamai oleh kader manapun di “Kota Delta”.
Selama tiga periode memimpin DPC PKB Sidoarjo, Abah Ipul bukan sekadar menjadi nakhoda administratif, melainkan simbol pengabdian total kepada partai dan Nahdlatul Ulama (NU). Tak heran jika dalam berbagai kesempatan, Ketua Umum DPP PKB, Abdul Muhaimin Iskandar (Gus Imin), kerap memberikan apresiasi setinggi langit dan menjadikan kepemimpinan Abah Ipul sebagai “pilot project” atau percontohan bagi DPC-DPC lainnya di masa itu.
Legasi Fisik: Kantor DPC yang Menjadi Milik Umat
Salah satu warisan paling prestisius yang ditinggalkan Abah Ipul adalah Gedung Kantor DPC PKB Sidoarjo di Jalan Airlangga. Bangunan megah tiga lantai tersebut berdiri sebagai bukti nyata komitmennya. Uniknya, meski menjadi pusat pergerakan politik PKB, aset tersebut dihibahkan atas nama Nahdlatul Ulama.
Secara administratif, gedung tersebut adalah milik NU, namun secara praktis menjadi rumah bersama bagi PKB dan NU untuk bersinergi. Langkah ini dianggap sebagai puncak dari loyalitas seorang kader yang memahami bahwa akar politik PKB adalah pengabdian kepada ulama.
Selama menjabat sebagai Kepala Daerah, Abah Ipul menunjukkan kepiawaian dalam meramu kebijakan yang pro-Nahdliyin tanpa menciptakan polarisasi di masyarakat. Keberpihakannya secara kultural terwujud dalam berbagai skema bantuan nyata, mulai dari hibah pembangunan Universitas Nahdlatul Ulama (UNUSIDA), dukungan penuh untuk Badan Otonom (Banom), hingga bantuan strategis bagi PCNU Sidoarjo.
Hebatnya, seluruh kebijakan tersebut dilakukan dengan kemampuan komunikasi politik yang sangat apik.
Abah Ipul mampu merangkul NU secara maksimal tanpa memicu gesekan krusial dengan organisasi kemasyarakatan lainnya, sebuah keahlian diplomasi yang langka ditemukan di era politik saat itu.Pertanyaan Besar: Siapa yang Mampu Menyamai?
Kini, muncul pertanyaan mendasar di kalangan kader dan simpatisan: Adakah kandidat Ketua DPC PKB Sidoarjo yang mampu menyamai standar Abah Ipul?
Tantangan bagi pemimpin masa depan PKB Sidoarjo bukan sekadar memenangkan kursi kekuasaan, melainkan bagaimana meniru “tangan dingin” Abah Ipul dalam membangun infrastruktur partai, menjaga harmonisasi dengan NU, serta memiliki loyalitas tanpa batas yang diakui hingga level nasional.
Mampukah figur baru muncul dengan kualitas komunikasi dan pengabdian yang setara, ataukah Sidoarjo akan terus merindukan sosok pemimpin dengan karakter sekuat Abah Ipul?












