Musyawarah Cabang (Muscab) VI PKB Sidoarjo tahun 2026 bukan sekadar ritual organisasi. Ia adalah cermin besar bagi para kader untuk melihat wajah partai: apakah masih menjadi pejuang yang “menghidupi partai”, atau justru menjadi penumpang yang “mencari hidup” di dalam partai? Momentum ini harus menjadi jawaban atas tantangan besar Pemilu 2029 yang sudah di depan mata.
Sejarah mencatat, PKB Sidoarjo besar dari tempaan konflik. Pada dekade pertama pasca-Reformasi, dinamika internal hampir tak pernah reda. Namun, militansi kader saat itu luar biasa. Di Pemilu 1999, partai ini langsung tancap gas sebagai runner-up dengan 14 kursi. Puncaknya di 2004, raihan meningkat menjadi 16 kursi dan keluar sebagai pemenang.
Ujian terberat datang di 2009. Akibat konflik internal yang meruncing, kepengurusan baru hanya punya waktu satu bulan menyusun daftar caleg. Meski perolehan kursi terjun bebas, spirit kader masih mampu mengamankan 10 kursi—tetap di posisi runner-up. Inilah bukti bahwa mesin partai tetap panas meski internal sedang membara.
*Anomali Dana Banpol dan Prestasi*
Masuk ke dekade kedua, PKB menunjukkan konsistensi yang unik. Saat itu, dana Bantuan Politik (Banpol) hanya di kisaran Rp150 juta—bahkan tak cukup untuk sekadar urusan bingkisan lebaran pengurus yang mencapai Rp180 juta. Namun, defisit anggaran itu ditutupi dengan “kecintaan menghidupi partai”. Hasilnya? Kursi naik menjadi 13 di 2014, dan di 2019 kembali ke puncak kejayaan dengan 16 kursi.
Ironi mulai muncul di dekade ketiga. Secara finansial, PKB Sidoarjo saat ini sedang “basah kuyup”. Dana Banpol melonjak drastis; dari Rp1,5 miliar di 2021 hingga menyentuh angka Rp3 miliar di 2022, 2024, dan 2025. Namun, apakah dana yang naik belasan kali lipat ini berbanding lurus dengan hasil di bilik suara?
Faktanya, Pemilu 2024 justru mencatat penurunan menjadi 15 kursi. Sangat menggelitik ketika ada pimpinan baru yang mengklaim telah “membesarkan partai”, padahal data bicara sebaliknya: terjadi penyusutan kursi di tengah guyuran dana negara yang melimpah.
Benang Merah Suara Sumbang
Masa kepemimpinan periode ini juga diwarnai desas-desus yang kurang sedap. Bisik-bisik soal dugaan pemanfaatan dana Banpol untuk kepentingan pribadi hingga isu kegiatan fiktif menjadi “kado” menjelang Muscab. Tentu, praduga ini harus dijawab secara transparan dalam Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) keuangan nanti.
Namun, publik tidak bisa mengabaikan pertanyaan besar: Adakah korelasi antara “suara sumbang” tersebut dengan penurunan kursi di Pileg 2024? Dan mungkinkah pragmatisme anggaran ini yang menjadi bibit pengkhianatan oknum pengurus serta anggota fraksi dalam Pilkada 2024 lalu?
*Menuju 2029: Kembalikan Kejayaan PKB*
Muscab 2026 adalah ajang introspeksi. Para kader loyalis harus kembali “sadar diri” dan “tahu diri”. Sukses dua dekade awal bukan karena tebalnya dompet partai, melainkan karena soliditas tim dan ketulusan berjuang.
Sebagai penutup, PKB hanya akan kembali berjaya jika militansi dan loyalitas kader diperkuat dan semangat untuk menghidupi partai dikobarkan lagi. Hal ini penting untuk memastikan bahwa kebesaran PKB akan menjadi rumah perjuangan bagi mereka yang setia pada garis perjuangan partai.












