SURABAYA – Nama Salim Azhar di kancah politik Jawa Timur bukan sekadar deretan angka di surat suara. Anggota DPRD Jawa Timur periode 2024-2029 dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini merupakan representasi nyata bahwa idealisme mahasiswa bisa bertransformasi menjadi kebijakan publik tanpa kehilangan jati diri.
Maju dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jombang, Salim kini mengemban amanah strategis sebagai Bendahara Fraksi PKB DPRD Jatim. Namun, di balik setelan jas legislatifnya, ia tetaplah seorang aktivis yang konsisten di jalur pergerakan.
Jejak kepemimpinan Salim Azhar berakar kuat di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Dedikasinya diuji saat ia menjabat sebagai Ketua Umum PC PMII Surabaya. Salah satu tinta emas yang ia torehkan adalah keberaniannya berhasil mengawal proses pemindahan kantor sekretariat PC PMII Surabaya.
Lokasi yang sebelumnya berada di Jl. SEMEA Wonokromo—yang satu kompleks dengan Yayasan Pendidikan Khodijah— berhasil dipindahkan ke daerah Darmo yang lebih indepen dan lebih leluasa bagi kegiatan kemahasiswaan.
Konsistensi Salim di jalur pergerakan tidak luntur saat ia lulus dari mahasiswa. Hal ini dibuktikannya dengan peran aktifnya di kepengurusan Dewan Koordinasi Nasional (DKN) Gerakan Mahasiswa Satu Bangsa (GEMASABA), salah satu sayap PKB yang mewadahi aktivis mahasiswa.
Ia menjadi jembatan bagi para aktivis kampus untuk masuk ke ruang-ruang kebijakan, memastikan suara mahasiswa tidak hanya bergema di jalanan, tapi juga terdengar di meja perundingan legislatif.
”Politik bagi saya adalah kelanjutan dari pergerakan mahasiswa. Wadahnya boleh berubah, tapi semangat keberpihakan pada rakyat harus tetap sama,” ujar Salim dalam sebuah kesempatan.
Jabatan Bendahara Fraksi yang kini ia emban menunjukkan kepercayaan besar partai terhadap integritas dan konsistensinya dijalur pergerakan.
Bagi banyak pihak, sosok Salim Azhar adalah anomali di tengah pragmatisme politik.












