Malang – Kontroversi Buku Islam Ala Prabowo terus memantik perhatian publik. Di luar dinamika politik dan kekuasaan, buku ini membuka ruang untuk membahas sosok Prabowo Subianto dari perspektif religiusitas, pemikiran Islam, dan cara seorang pemimpin memandang agama.
Melalui dialog Spektrum Channel Sembilan, Yoyok Amirudin, M.Pd.I, Ph.D, akademisi sekaligus intelektual muda NU dan doktor alumni National Pingtung University Taiwan, mengajak publik melihat buku tersebut secara lebih kritis dan ilmiah.
Pembahasan tidak berhenti pada perdebatan politik, melainkan berusaha memahami bagaimana Islam diposisikan dalam kehidupan seorang tokoh negara. Pertanyaan pentingnya adalah bagaimana pemikiran keislaman, pengalaman spiritual, dan pandangan tentang kehidupan beragama dapat dibaca di luar kepentingan kekuasaan.
Kontroversi yang muncul menjadi momentum untuk menguji isi buku melalui tradisi intelektual Islam. Dalam khazanah pesantren, perbedaan pandangan tidak semestinya diselesaikan dengan prasangka, tetapi melalui kajian, argumentasi, dan karya ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, membaca Islam Ala Prabowo membutuhkan sikap terbuka sekaligus kritis. Publik perlu membedakan antara isi buku, tafsir terhadap pemikiran tokoh, dan dinamika politik yang mengiringi penerbitannya.
Dialog bersama Yoyok Amirudin menjadi ruang untuk mengurai kontroversi tersebut secara lebih mendalam. Bukan sekadar mencari pembenaran atau penolakan, tetapi mendudukkan buku dan pemikiran Islam di dalamnya sebagai bahan diskusi intelektual yang relevan bagi masyarakat.












