REDAKSI – Teologi pembebasan lahir dari keresahan terhadap kemiskinan, penindasan, dan ketimpangan sosial yang dialami rakyat kecil. Gagasan ini berkembang di Amerika Latin pada dekade 1960-an, ketika banyak masyarakat hidup dalam tekanan rezim otoriter dan ketidakadilan ekonomi.
Tokoh penting dalam lahirnya teologi pembebasan adalah Gustavo Gutiérrez. Melalui pemikirannya, Gutierrez menegaskan bahwa agama tidak boleh hanya berbicara tentang keselamatan akhirat, tetapi juga harus hadir membela kaum miskin dan tertindas di dunia nyata.
Pemikiran itu tertuang dalam karya terkenalnya A Theology of Liberation yang terbit tahun 1971. Dalam buku tersebut, Gutierrez menekankan bahwa iman harus diwujudkan dalam tindakan sosial, perjuangan keadilan, dan keberpihakan kepada rakyat kecil.
Hanafi dan Konsep “Islam Kiri” (Al-Yasar Al-Islami)
Dalam dunia Islam, gagasan serupa berkembang melalui pemikiran Hassan Hanafi dengan konsep “Islam Kiri” atau Al-Yasar Al-Islami. Hassan Hanafi mencoba membaca ulang ajaran Islam agar lebih relevan terhadap persoalan kemiskinan, kolonialisme, dan ketimpangan sosial di dunia Muslim.
Menurut Hassan Hanafi, Islam tidak cukup dipahami sebagai ajaran ritual semata, tetapi juga sebagai kekuatan transformasi sosial. Agama harus menjadi alat pembebasan manusia dari penindasan dan ketidakadilan, sekaligus membangun solidaritas terhadap kaum lemah.
Melalui Teologi Pembebasan dan Islam Kiri, kedua tokoh ini menunjukkan bahwa agama dapat menjadi energi perjuangan kemanusiaan. Nilai spiritual tidak hanya hidup di tempat ibadah, tetapi juga hadir dalam upaya membela keadilan sosial dan martabat manusia.












