Hikayat Spiritual di Balik Penciptaan Lambang Nahdlatul Ulama

KH. RIDWAN ABDULLAH PENCIPTA LAMBANG NU

REDAKSI | Lambang Nahdlatul Ulama bukan sekadar gambar organisasi, melainkan lahir dari perjalanan spiritual mendalam seorang ulama seniman, KH. Ridwan Abdullah. Sosok alim yang dikenal mahir melukis itu mendapat amanah langsung dari KH. Hasyim Asy’ari untuk menciptakan lambang NU sekitar tahun 1926–1927.

Sang guru berpesan agar lambang tersebut harus orisinal, penuh wibawa, dan tidak lekang dimakan zaman. Namun amanah besar itu tidak mudah dijalankan. Berkali-kali KH. Ridwan Abdullah membuat sketsa, tetapi tak satu pun dirasa mampu mewakili ruh perjuangan NU.

Dalam kegelisahannya, beliau memilih mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui salat istikharah. Malam demi malam dijalani dengan doa dan munajat, memohon petunjuk atas lambang yang tepat bagi jam’iyah para ulama itu.
Hingga suatu malam, datanglah ilham melalui mimpi. KH. Ridwan Abdullah melihat sebuah gambar bercahaya di langit yang sangat jernih. Gambaran itu begitu kuat membekas dalam batinnya dan kemudian dituangkan menjadi lambang NU yang dikenal hingga hari ini.

Logo tersebut menggambarkan bumi yang dilingkari tali, peta Indonesia, serta sembilan bintang yang sarat makna spiritual dan perjuangan. Tali melambangkan ukhuwah dan persatuan, sedangkan sembilan bintang dipercaya merepresentasikan Wali Songo serta cahaya dakwah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Sejak saat itu, lambang NU bukan hanya identitas organisasi, tetapi juga simbol doa, perjuangan, dan hikmah spiritual para ulama Nusantara dalam menjaga agama, bangsa, dan tradisi Islam yang damai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *