Indeks

Isra’ Mi’raj: Perjalanan Spiritualitas yang Membangun Kesalehan Sosial

Oleh: Moch. Syamsul Arifin. Zrt, M.M (Sekretaris NU Ranting Sumberjaya Gondanglegi)

Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan salah satu momentum paling agung dalam sejarah Islam. Ia bukan sekadar perjalanan fisik dan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha, melainkan peristiwa sarat makna yang menyatukan dimensi ketuhanan dan kemanusiaan. Isra’ Mi’raj menghadirkan pesan mendalam tentang pentingnya menyeimbangkan nilai spiritual dengan tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Perjalanan suci ini diabadikan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى
(QS. Al-Isra’: 1)

Ayat ini menegaskan bahwa Isra’ Mi’raj adalah kehendak ilahi sekaligus kehormatan besar bagi Rasulullah SAW. Puncak dari peristiwa tersebut adalah diterimanya perintah shalat, yang menjadi fondasi utama hubungan antara hamba dan Allah. Shalat dalam Islam bukan hanya kewajiban ritual, melainkan sarana pembentukan kesadaran spiritual.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan:

الصَّلَاةُ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِينَ، بِهَا تَرْتَقِي أَرْوَاحُهُمْ إِلَى حَضْرَةِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Shalat adalah mi’raj-nya orang-orang beriman, dengannya ruh mereka naik menuju hadirat Tuhan semesta alam.”

Namun, Isra’ Mi’raj tidak berhenti pada pengalaman spiritual di langit. Rasulullah SAW kembali ke bumi, kembali ke tengah masyarakat, menghadapi problem umat, dan menata kehidupan sosial dengan nilai-nilai ilahiah. Inilah pesan penting bahwa puncak spiritualitas dalam Islam tidak menjauhkan manusia dari realitas sosial, tetapi justru mendorong keterlibatan aktif dalam memperbaikinya.

Al-Qur’an menegaskan dimensi sosial dari shalat:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Ayat ini menunjukkan bahwa shalat yang benar harus berdampak pada perilaku sosial. Ibadah tidak boleh berhenti sebagai rutinitas individual, tetapi harus melahirkan akhlak mulia, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Madarijus Salikin menegaskan keterkaitan antara kedekatan kepada Allah dan manfaat sosial:

فَإِنَّ كَمَالَ الْعَبْدِ لَيْسَ بِمَعْرِفَتِهِ فَقَطْ، بَلْ بِمَا يُحَقِّقُهُ مِنْ نَفْعٍ لِعِبَادِ اللَّهِ

“Kesempurnaan seorang hamba bukan hanya pada makrifatnya, tetapi pada sejauh mana ia menghadirkan manfaat bagi hamba-hamba Allah.”

Spirit ini sejalan dengan teladan Rasulullah SAW yang setelah mencapai kedudukan spiritual tertinggi, justru semakin kuat komitmennya dalam membangun masyarakat yang adil, beradab, dan penuh kasih. Islam tidak mengenal dikotomi antara ibadah dan pengabdian sosial. Keduanya adalah satu kesatuan yang saling menguatkan.

Syekh Ali Mustafa Yaqub juga mengingatkan pentingnya kesalehan sosial dalam beragama. Dalam salah satu karyanya beliau menyatakan:

لَا قِيمَةَ لِلْعِبَادَاتِ الشَّكْلِيَّةِ إِذَا لَمْ تُنْتِجْ أَخْلَاقًا وَعَدْلًا فِي الْمُجْتَمَعِ

“Tidak ada nilai bagi ibadah-ibadah formal jika tidak melahirkan akhlak dan keadilan dalam masyarakat.”

Dalam konteks kehidupan kebangsaan hari ini, refleksi Isra’ Mi’raj menjadi sangat relevan. Di tengah tantangan kemiskinan, ketimpangan sosial, dan krisis moral, umat Islam dituntut menghadirkan nilai-nilai langit dalam kehidupan bumi. Shalat dan ibadah lainnya harus menjadi energi moral untuk memperjuangkan kejujuran, solidaritas sosial, serta persatuan bangsa.

Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa semakin tinggi spiritualitas seseorang, semakin besar pula tanggung jawab sosialnya. Jalan menuju Allah tidak pernah terpisah dari jalan pelayanan kepada manusia. Inilah esensi Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin—menghubungkan langit dengan bumi, dan menyatukan kesalehan spiritual dengan kesalehan sosial.

Exit mobile version