Indeks

Transformasi Banser Jatim: Menuju Abad Kedua yang Responsif dan Relevan

Oleh: Moh Syukron Aby (Kepala AsdikLat Satkorwil Banser Jatim)

Memasuki gerbang  abad kedua, Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Jawa
Timur berdiri di titik persimpangan sejarah yang krusial. Sebagai kader inti GP Ansor, Banser bukan sekadar “penjaga fisik” ulama, melainkan benteng peradaban yang dituntut melakukan akselerasi kapasitas-nya guna menjawab tantangan zaman yang semakin terdisrupsi.

Evolusi Ideologis : Dari Defensif ke Dialektis
Ada perbedaan mendasar antara wajah NU tahun 1926 dengan hari ini. Jika pada
masa pendiriannya NU bersifat defensif-konservatif, fokus pada perlindungan
warisan klasikal, maka NU hari ini telah bertransformasi menjadi aktor global.

Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) kini tak lagi sekadar identitas mazhab yang
statis, melainkan sebuah manhaj al-fikr (metodologi berpikir) yang dinamis.
Bagi kader Banser di Jawa Timur, pergeseran ini menuntut penguatan ideologi yang tidak hanya kuat secara amaliyah, tetapi juga tajam secara fikrah. Kader harus mampu membedah isu demokrasi, HAM, hingga etika digital melalui kacamata moderasi agama yang rahmatan lil-‘alamin.

Re-branding : Menggaet Milenial dengan Aksi Nyata
Tantangan terbesar Banser saat ini adalah menjaga relevansi di mata generasi milenial dan Gen-Z Nahdliyyin. Kelompok ini tidak lagi tertarik pada narasi doktriner yang kaku; mereka mencari ruang aktualisasi diri dan kebermanfaatan nyata.

Strategi Banser dalam menggandeng anak muda harus berpijak pada tiga pilar:

  1. Digital Literacy & Social Media Branding: Membumikan nilai-nilai Banser melalui konten kreatif di TikTok dan Instagram yang menonjolkan sisi solidaritas dan kemanusiaan.
  2. Humanitarian Action: Menjadikan aksi tanggap bencana dan pemberdayaan sosial sebagai pintu masuk utama, karena generasi muda sangat peka terhadap isu-isu kemanusiaan.
  3. Kemandirian Ekonomi: Membangun ekosistem ekonomi organisasi agar
    pengabdian kader selaras dengan kesejahteraan hidupnya.

Pesan untuk Anak Muda Nahdliyyin
Jika Anda bertanya, mengapa harus  bergabung dengan Banser hari ini?, Jawabannya sederhana: Banser adalah tempat di mana tradisi bertemu dengan
aksi. Kepada anak muda Nahdliyyin, mari kita tegaskan bahwa menjadi Banser bukan hanya soal memakai seragam loreng. Ini adalah tentang:

Pertama : Identitas, Menjaga akar sejarah nusantara di tengah gempuran
ideologi transnasional. Kedua: Kompetensi, Menjadi pribadi yang adaptif terhadap teknologi dan
kejahatan digital, namun tetap santun pada kiai. Ketiga: Kontribusi, Menjadi bagian dari organisasi pemuda terbesar yang memiliki dampak nyata pada stabilitas bangsa.

Bergabung dengan Banser berarti Anda memilih untuk tidak menjadi penonton
sejarah, tetapi menjadi penggerak yang memastikan bahwa Indonesia tetap aman, toleran, dan bermartabat

 

Exit mobile version