Indeks

Kaji Reza: Pesantren Harus Dirawat, Santri Jadi Teladan di Jalan Raya

SIDOARJO – Ketua DPC PKB Kabupaten Sidoarjo, H. Rizza Ali Faizin, M.Pd.I., menegaskan pentingnya menjaga kedekatan dengan pesantren sebagai bagian dari upaya merawat tradisi keagamaan, memperkuat persaudaraan, dan membangun karakter generasi muda. Pesan tersebut mengemuka saat menghadiri kegiatan Motoran Santri di Yayasan Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Putat, Tanggulangin, Sidoarjo, Rabu (21/10/2026).

Menurut Rizza, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama, melainkan akar historis dan kultural Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa. Karena itu, keberadaan pesantren perlu terus dirawat melalui perhatian, kebersamaan, dan dukungan nyata terhadap para kiai, santri, serta komunitas pesantren.

Ia menilai peringatan Hari Santri Nasional tidak cukup hanya dirayakan melalui kegiatan seremonial. Momentum ini harus menjadi pengingat pentingnya memperkuat nilai keagamaan, membentuk karakter generasi muda, serta menanamkan semangat kebangsaan dan kepedulian sosial.

Kegiatan Motoran Santri Manba’ul Hikam dinilai menjadi contoh bagaimana tradisi pesantren dapat berjalan beriringan dengan perkembangan zaman. Kehadiran santri, alumni, dan masyarakat dalam kegiatan tersebut memperlihatkan kuatnya semangat persaudaraan sekaligus membuka ruang interaksi yang positif antara pesantren dan masyarakat luas.

Selain mempererat silaturahmi, kegiatan ini membawa pesan “Motor Santun”, yakni ajakan kepada santri dan masyarakat untuk tertib berlalu lintas, mengutamakan keselamatan, serta menghormati sesama pengguna jalan. Identitas santri, menurut semangat yang diusung kegiatan ini, harus tercermin dalam akhlak dan kedisiplinan, termasuk ketika berkendara.

Rizza berharap sinergi antara pesantren, masyarakat, dan berbagai elemen bangsa terus diperkuat agar pesantren tetap menjadi pilar pendidikan karakter dan kebangsaan. Melalui Motoran Santri, semangat Hari Santri Nasional 2026 diharapkan tidak berhenti pada kemeriahan acara, tetapi berlanjut menjadi gerakan nyata untuk merawat tradisi, memperkuat persaudaraan, dan membangun budaya berlalu lintas yang santun.

Exit mobile version