Sidoarjo – Revitalisasi Pasar Induk Krian, Sidoarjo, kembali menjadi sorotan. Anggaran sekitar Rp5 miliar yang sebelumnya disebut telah disepakati untuk pembangunan kembali pasar, hingga kini belum jelas keberlanjutannya.
Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Sidoarjo sekaligus pemilik stand Pasar Krian, H.M. Sholeh BBA, mempertanyakan kepastian program tersebut. Ia mengatakan, anggaran Rp5 miliar pernah disampaikan dalam pembahasan bersama pemerintah dan DPRD sebagai bagian dari rencana revitalisasi.
Namun hingga 2026, pembangunan belum juga memiliki kepastian. Sholeh menyebut kondisi ini membuat para pedagang terus menunggu, berjualan di penampungan sementara dan sebagian harus mencari tempat lain untuk berjualan setelah pasar terbakar.
Pernyataan pedagang tersebut dibenarkan Anggota DPRD Sidoarjo dari Fraksi PKB, H. Abud Asrofi. Ia mengungkapkan, anggaran revitalisasi sekitar Rp5 miliar memang pernah dibahas, baik di tingkat komisi maupun Badan Anggaran DPRD.
“Sekarang kok tidak ada. Apa ada yang mencoret atau bagaimana, kami belum memahami kepastiannya,” ujar Abud, mempertanyakan hilangnya rencana anggaran yang sebelumnya telah dibahas.
Abud menegaskan DPRD tidak tinggal diam dan beberapa kali turun langsung menemui pedagang di lokasi. Ia meminta masukan dari para pedagang agar ditemukan solusi terbaik, mengingat pasar merupakan sumber penghasilan bagi banyak keluarga.
“Dalam kondisi pasar normal saja pemasukan berkurang, apalagi dalam kondisi seperti sekarang,” tegasnya.












