SIDOARJO – Kabar duka menyelimuti keluarga besar Nahdlatul Ulama dan dunia aktivis pergerakan Jawa Timur. Tepat pada Selasa pagi, 5 Mei 2026, aktivis santri dan pegiat hukum Islam Fattahul Anjab, atau yang akrab disapa Gus Anjab, dinyatakan berpulang ke Rahmatullah.
Kepergiannya meninggalkan rasa duka yang mendalam bagi para sahabat dan kolega. Sebelumnya, pada Senin malam, pesan berantai memohon doa sempat beredar luas setelah kondisi kesehatan Gus Anjab dilaporkan menurun drastis (drop) hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, takdir berkata lain, sosok yang dikenal komunikatif dan ramah ini kini telah kembali ke haribaan-Nya
Tak banyak yang mengetahui bahwa Gus Anjab merupakan keluarga dari besar tokoh kharismatik matit aktivis Muslimat NU Gempol, Pasuruan. Karakter religius dan mentalitas pejuangnya ditempa sejak dini di Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang.
Identitasnya sebagai santri terus melekat hingga ia menempuh studi di Fakultas Syariah (Hukum Islam) IAIN Sunan Ampel Surabaya (kini UINSA). Semasa mahasiswa, Gus Anjab dikenal sebagai aktivis yang sangat dinamis. Ia tidak hanya menjadi kader militan di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), tetapi juga mengasah kepekaan rasa dan komunikasinya melalui Teater Q Fakultas Syariah.
Nama Gus Anjab mulai masyhur di panggung Jawa Timur saat ia dipercaya oleh barisan kiai muda untuk mengemban amanah sebagai Sekretaris Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor Jawa Timur mendampingi KH. Nailul Rachman (Gus Amak). Sebuah organisasi badan Otonom Ansor yang bergerak khusus untuk menjaga tradisi Ubudiyah NU dan menjadi wadah khusus untuk para Gus dan kyai muda NU.
Kedekatannya dengan para “Gus” dan kiai muda di Jawa Timur menjadikannya sosok penghubung yang luar biasa. Pribadinya yang ramah, komunikatif, dan gemar bercanda membuatnya mampu masuk ke berbagai lini, mencairkan suasana di tengah ketegangan forum organisasi, namun tetap serius dalam menjalankan tugas.
Keahliannya di bidang Hukum Islam dan hukum positif ia abdikan melalui jabatan Ketua LBH PC GP Ansor Kabupaten Sidoarjo dan peran aktifnya di Lakumham DPC PKB Sidoarjo.
Dedikasi terakhir yang ia tunjukkan sebelum berpulang adalah keterlibatannya yang sangat intens dalam membuka posko bantuan hukum bagi Pondok Pesantren Al-Khoziny. Dibawah Lakumham DPC PKB Kabupaten Sidoarjo. Baginya, mengawal persoalan hukum yang menimpa institusi pesantren adalah bagian dari jihad profesionalnya sebagai seorang santri advokat.
“Sugeng tindak, Gus Anjab. Canda tawa dan semangat pengabdianmu akan selalu hidup dalam ingatan kami.”
