Oleh: Spektrum
Setiap pemikiran politik tidak pernah lahir di ruang hampa. Di dalamnya selalu terdapat ideologi, kepentingan, dan arah perubahan yang hendak diperjuangkan. Karena itu, ketika Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengangkat kajian Sosialisme Islam dengan menjadikan Ali Syariati sebagai rujukan utama, pertanyaan yang layak diajukan bukan sekadar mengapa memilih tokoh tersebut, melainkan: apa orientasi ideologis dan tujuan politik yang ingin dibangun PKB melalui pilihan pemikiran itu?
Pertanyaan ini penting, sebab dalam sejarah intelektual Islam Indonesia, Ali Syariati dan Hasan Hanafi sama-sama dikenal sebagai pemikir pembebasan. Keduanya menolak Islam yang berhenti pada ritualisme, sama-sama mengkritik ketidakadilan, dan menjadikan agama sebagai kekuatan transformasi sosial. Namun, keduanya memiliki perbedaan mendasar dalam pendekatan, bangunan epistemologi, serta cara memandang tradisi, modernitas, dan perubahan politik. Memilih salah satunya bukan sekadar pilihan akademis, tetapi juga menentukan watak ideologi gerakan.
Dua Jalur Pemikiran Islam Progresif di Indonesia
Pada dekade 1980-an hingga 1990-an, pemikiran Ali Syariati memperoleh ruang penting dalam perkembangan intelektual Islam Indonesia. Karya-karyanya diperkenalkan melalui penerbit Mizan dan berbagai forum diskusi intelektual. Nama-nama seperti M. Dawam Rahardjo, Amien Rais, Azyumardi Azra, dan Jalaluddin Rakhmat turut berada dalam lanskap diskusi yang memperkenalkan pemikiran Syariati kepada kalangan Muslim terdidik. Seminar Syariati di IAIN Jakarta pada 1993, misalnya, menghadirkan sejumlah tokoh tersebut.
Di jalur lain, pemikiran Hasan Hanafi berkembang melalui tradisi intelektual Islam kritis yang banyak berinteraksi dengan aktivisme muda Nahdlatul Ulama. Penerbit LKiS Yogyakarta menjadi salah satu ruang penting penyebarannya. Buku Kiri Islam: Antara Modernisme dan Postmodernisme, karya Kazuo Shimogaki yang diterjemahkan M. Imam Aziz dan M. Jadul Maula, dengan pengantar Abdurrahman Wahid, menjadi salah satu pintu masuk utama.
Dua jalur tersebut memiliki karakter yang berbeda. Syariati menawarkan Islam sebagai ideologi revolusioner yang membangkitkan kesadaran massa. Hanafi menawarkan proyek pembaruan yang lebih sistematis: merekonstruksi teologi, membaca ulang tradisi, dan membangun hubungan kritis dengan peradaban Barat. Keduanya sama-sama penting, tetapi tidak otomatis memiliki relevansi politik yang sama bagi PKB.
Ali Syariati: Islam sebagai Ideologi Perlawanan
Ali Syariati merupakan pemikir Muslim asal Iran yang menggabungkan sosiologi, humanisme eksistensial, analisis sosial, dan simbolisme keagamaan dalam membangun gagasan Islam revolusioner. Baginya, Islam bukan sekadar warisan ritual yang dipelihara secara formal, melainkan kekuatan ideologis untuk membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap penindasan.
Dalam On the Sociology of Islam dan Islamology, Syariati mengkritik agama yang kehilangan daya pembebasannya. Ia membedakan antara Islam yang membangkitkan kesadaran dan Islam yang justru menjadi alat legitimasi kekuasaan. Pemikirannya berupaya menjadikan umat bukan sekadar objek sejarah, melainkan subjek yang aktif membentuk perubahan sosial.
Dalam konteks Iran, Syariati mengembangkan gagasan yang dikenal sebagai Red Shi’ism atau Syiah Merah, yakni pemahaman Islam yang menekankan keadilan sosial, perjuangan melawan penindasan, dan keberpihakan kepada kaum tertindas. Ia menggunakan sejumlah perangkat analisis Marxis, tetapi tidak menerima materialisme ateistik sebagai fondasi Islam. Peneliti Abed Kanaaneh menyebut proyek ini sebagai upaya “Islamizing Socialism and Socializing Islam”.
Di sinilah kekuatan Syariati sekaligus keterbatasannya. Ia sangat efektif membangun kesadaran revolusioner dan mobilisasi massa. Namun, antara ideologi perlawanan dan rancangan institusi politik terdapat persoalan yang tidak sederhana. Bagaimana kekuasaan dibatasi? Bagaimana demokrasi dijamin? Bagaimana pluralitas masyarakat dikelola? Bagaimana keadilan sosial diterjemahkan menjadi kebijakan negara?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab hanya dengan semangat revolusi. Ia membutuhkan teori kelembagaan, demokrasi, ekonomi politik, dan tata kelola negara yang lebih terperinci.
Hasan Hanafi: Teologi Pembebasan yang Lebih Sistematis
Hasan Hanafi menawarkan pendekatan yang tidak kalah progresif, bahkan dalam beberapa aspek lebih komprehensif. Melalui gagasan Al-Yasar al-Islami atau Kiri Islam, Hanafi berupaya membangun teologi yang tidak berhenti pada persoalan ketuhanan secara abstrak, melainkan bergerak menuju pembebasan manusia dari kemiskinan, ketertinggalan, kolonialisme, dan dominasi sosial.
Hanafi mengembangkan proyek intelektual yang dikenal melalui tiga ranah utama: pembaruan tradisi Islam, kritik terhadap peradaban Barat, dan rekonstruksi teologi. Pemikirannya tidak hanya bertanya bagaimana Islam membangkitkan perlawanan, tetapi juga bagaimana warisan intelektual Islam dapat direkonstruksi agar relevan dengan realitas masyarakat modern.
Dalam Min al-Aqidah ila al-Tsawrah atau Dari Akidah Menuju Revolusi, Hanafi berusaha menjadikan teologi sebagai kesadaran praksis. Sementara itu, melalui Al-Turats wa al-Tajdid atau Tradisi dan Pembaruan, ia membangun kerangka untuk membaca ulang tradisi secara kritis. Gagasan Al-Istighrab atau Oksidentalisme juga menjadi upaya untuk memahami Barat secara kritis, bukan sekadar menerima atau menolaknya.
Jika Syariati lebih menonjol dalam membangkitkan energi revolusioner, Hanafi berusaha menyusun perangkat intelektual untuk menjelaskan bagaimana pembebasan harus dikerjakan. Ia menghubungkan tradisi, filsafat, teologi, dan analisis sosial dalam sebuah proyek pembaruan yang lebih sistematis.
Karena itu, menyebut Hasan Hanafi lebih kompleks bukan berarti menganggap Syariati tidak memiliki kedalaman intelektual. Perbedaannya terletak pada keluasan proyek pemikiran dan orientasi metodologis. Hanafi memberikan ruang yang lebih besar bagi rekonstruksi tradisi, kritik epistemologi, dan pembacaan terhadap hubungan Islam dengan peradaban modern.
