SIDOARJO – Tepat satu tahun sejak dilantik secara serentak oleh Presiden di Monas pada 26 Februari 2025, kepemimpinan Bupati Sidoarjo H. Subandi dan Wakil Bupati Mimik Idayana (Pasangan BAIK) mendapat rapor merah dari aktivis perempuan, Nadiah Bafaqih.
Nadia menilai, satu tahun perjalanan pasangan ini masih jauh dari ekspektasi warga Sidoarjo dan justru menampilkan “potret buram” tata kelola pemerintahan daerah.
Poin utama yang disoroti adalah ketidakharmonisan antara Bupati dan Wakil Bupati yang sudah tercium publik sesaat setelah pelantikan. Masalah mutasi jabatan menjadi pemicu utama keretakan yang menghambat jalannya roda pemerintahan.
”Sangat disayangkan, energi pemerintah habis untuk konflik internal terutama soal mutasi jabatan. Dampaknya, pelayanan publik tidak berjalan maksimal karena birokrasi terjebak di antara dua kepentingan,” ujar Nadiah.
Sebagai aktivis perempuan, Nadiah menyayangkan tidak adanya pembagian tugas yang jelas antara Bupati dan Wakil Bupati. Potensi Mimik Idayana sebagai representasi tokoh perempuan dianggap “diparkir” dan tidak dioptimalkan dalam kebijakan strategis.
Pertama Tidak ada ruang bagi Wabup untuk mengeksekusi kebijakan khusus. kedua Isu-isu perempuan dan anak di Sidoarjo kehilangan nahkoda karena peran Wabup yang dibatasi.
Nadiah juga mengkritik realisasi 16 Program “Sidoarjo BAIK” yang dinilai hanya bersifat insidentil dan kental dengan nuansa pencitraan. Menurutnya, belum ada perubahan struktural yang dirasakan masyarakat secara fundamental.
Pertama bidang Infrastruktur: Aduan jalan berlubang di berbagai titik di Sidoarjo direspons sangat lambat. kedua Program kerja lebih banyak terlihat sebagai ajang mencari panggung politik daripada solusi jangka panjang.
Ketiga Sorotan tajam juga diarahkan pada penegakan hukum, terutama kasus pembongkaran di Mutiara Regency yang melibatkan arogansi Satpol PP.
Sebagai penutup Nadia Bafaqih mendesak agar di sisa masa jabatan ini, pasangan BAIK segera berbenah diri dan fokus pada janji politik mereka. Sidoarjo, menurutnya, butuh pemimpin yang bekerja dengan kolaborasi, bukan kompetisi di dalam rumah tangga sendiri.
