Indeks

Sisi Ideologi dan Nafas Religiusitas Dibalik Stereotipe dan Gaya Nekat Cak Sugeng Gondrong Yang Jarang Di ekspos Media

SUGENG BUDI SANTOSO TOKOH LSM ASAL WONOAYU

SIDOARJO – Dikalangan LSM dan aktivis gerakan, nama Sugeng Budi Santoso, atau yang lebih karib disapa Cak Sugeng Gondrong, kerap mengundang reaksi beragam. Bagi sebagian orang, ia adalah sosok pimpinan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang “nggetuni” (nekat), bahkan tak jarang dicap arogan karena gaya bicaranya yang meledak-ledak dan tindakannya yang frontal. Namun, di balik casing nyentrik dan stereotipe negatif yang kerap melekat, tersimpan sisi lain yang jarang terekspos: seorang pria dengan ideologi ke-NU-an (Nahdlatul Ulama) yang mendarah daging.

​Cak Sugeng bukanlah tipikal tokoh masyarakat yang kalem. Rambut gondrongnya seolah menjadi simbol perlawanan terhadap kemapanan birokrasi yang dianggapnya lamban atau menyimpang. Di dunia per-LSM-an Sidoarjo, reputasinya sebagai figur yang “berani mati” demi membela apa yang dianggapnya benar sudah tidak diragukan lagi.

​Gaya nekat ini seringkali disalahartikan sebagai arogansi. Namun, bagi mereka yang mengenal dekat, aksi-aksi frontal Cak Sugeng seringkali didorong oleh rasa keadilan yang terusik, meskipun cara penyampaiannya jauh dari kata diplomatis.

​Berbicara soal kenekatan Cak Sugeng Gondrong tidak bisa dilepaskan dari satu peristiwa monumental yang melambungkan namanya di kalangan masyarakat Wonoayu dan sekitarnya beberapa waktu lalu. Sebuah aksi yang hingga kini masih menjadi buah bibir.

​Kala itu, Cak Sugeng secara personal, dengan gaya nyentrik-nya, nekat mendatangi dan membubarkan prosesi pendirian serta gebyar acara salah satu organisasi kemasyarakatan (ormas) yang bertempat di salah satu kelurahan di ujung barat Sidoarjo Kota. Alasan pembubaran tersebut didasari oleh prinsip yang ia pegang teguh mengenai kondusifitas dan nilai-nilai lokal yang menurutnya terancam.
​Kejadian tersebut sempat memicu ketegangan tinggi.

Situasi memanas hingga mengharuskan keterlibatan tokoh-tokoh dari ormas terbesar di Sidoarjo untuk turun tangan guna memediasi dan menghentikan friksi lebih lanjut akibat penolakan keras Cak Sugeng. Peristiwa ini mempertegas satu hal: Cak Sugeng Gondrong bukanlah sosok yang bisa digertak dengan mudah jika menyangkut prinsip yang diyakininya.

​Inilah letak paradoks seorang Sugeng Budi Santoso. Di saat publik menyematkan label “preman” atau “penghasut” karena gaya nekatnya, siapa sangka jantung spiritualitas dan pemikirannya berdetak kencang dalam irama Nahdlatul Ulama.

​Penelusuran tim redaksi menemukan fakta bahwa kedesaan dan aksi-aksi frontal Cak Sugeng seringkali justru bersumber dari semangat menjaga marwah dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) khas NU. Bagi Sugeng, mempertahankan tatanan masyarakat yang harmonis dan mencegah paham-paham baru yang dianggapnya berpotensi memecah belah warga adalah manifestasi dari komitmen hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman).

​Salah satu kolega dekatnya, yang enggan disebutkan namanya, berujar, “Cak Sugeng itu casing-nya saja yang sangar. Tapi kalau sudah bicara soal tradisi tahlilan, ziarah kubur, atau menghormati kiai-kiai sepuh NU, dia nomor satu di depan. Aksi nekatnya membubarkan ormas dulu itu, jika ditelisik, motif utamanya adalah kekhawatiran ideologis, bukan sekadar gaya-gayaan.”

​Sosok Cak Sugeng Gondrong adalah pengingat kuat akan pameo “jangan menilai buku dari sampulnya”. Di balik penampilan nyentrik dan rekam jejak aksi yang terkesan arogan, Sugeng Budi Santoso adalah cerminan kompleksitas seorang Muslim urban yang memegang teguh ideologi tradisionalis NU di tengah arus perubahan zaman.

Exit mobile version